1. Distribusi
Normal
Salah satu distribusi
frekuensi yang paling penting dalam statistika adalah distribusi normal.
Distribusi normal berupa kurva berbentuk lonceng setangkup yang melebar tak
berhingga pada kedua arah positif dan negatifnya. Penggunaanya sama dengan
penggunaan kurva distribusi lainnya. Frekuensi relatif suatu variabel yang
mengambil nilai antara dua titik pada sumbu datar. Tidak semua distribusi
berbentuk lonceng setangkup merupakan distribusi normal.
Pada tahun 1733 DeMoivre menemukan
persamaan matematika kurva normal yang menjadi dasar banyak teori statistika
induktif. Distribusi normal sering pula disebut Distribusi Gauss untuk
menghormati Gauss (1777 – 1855), yang juga menemukan persamaannya waktu
meneliti galat dalam pengukuran yang berulang-ulang mengenai bahan yang sama.
Sifat dari variabel
kontinu berbeda dengan variabel diskrit. Variabel kontinu mencakup semua
bilangan, baik utuh maupun pecahan. Oleh karenanya tidak bisadipisahkan satu
nilai dengan nilai yang lain. Itulah sebabnya fungsi variabel random kontinu
sering disebut fungsi kepadatan, karena tidak ada ruang kosong diantara dua
nilai tertentu. Dengan kata lain sesungguhnya keberadaan satu buah angka dalam
variabel kontinu jika ditinjau dari seluruh nilai adalah sangat kecil, bahkan
mendekati nol. Karena itu tidak bisa dicari probabilitas satu buah nilai dalam
variabel kontinu, tetapi yang dapat dilakukan adalah mencari probabilitas
diantara dua buah nilai. Distribusi kontinu mempunyai fungsi matematis
tertentu. Jika fungsi matematis tersebut digambar, maka akan terbentuk kurva
kepadatan dengan sifat sebagai berikut:
1.
Probabilitas nilai x dalam variabel tersebut terletak dalam rentang antara 0
dan 1
2.
Probabilitas total dari semua nilai x adalah sama dengan satu (sama dengan luas
daerah
di
bawah kurva)
Fungsi
kepadatan merupakan dasar untuk mencari nilai probabilitas di antara dua nilai
variabel. Probabilitas di antara dua nilai adalah luas daerah di bawah kurva di
antara dua nilai dibandingkan dengan luas daerah total di bawah kurva. Dapat
dicari luas daerah tersebut dengan menggunakan integral tertentu (definit
integral).
Persamaan
matematika distribusi peluang peubah normal kontinu bergantung pada dua
parameter μ dan σ yaitu rataan dan simpangan baku. Jadi fungsi padat x akan dinyatakan
dengan n (x; μ, σ).
Begitu μ dan σ diketahui
maka seluruh kurva normal diketahui. Sebagai contoh, bila μ = 50 dan σ = 5,
maka ordinat n(x ; 50, 5) dapat dengan mudah dihitung untuk berbagai harga x
dan kurvanya dapat digambarkan. Kedua kurva bentuknya persis sama tapi titik
tengahnya terletak di tempat yang berbeda di sepanjang sumbu datar.
Dengan memeriksa turunan
pertama dan kedua dari n(x ; μ, σ) dapat diperoleh lima sifat kurva normal
berikut :
1.
Modus, titik pada sumbu datar yang memberikan maksimum kurva, terdapat pada x=μ
2.
Kurva setangkup terhadap garis tegak yang melalui rataan μ
3.
Kurva mempunyai titik belok pada x = μ σ, cekung dari bawah bila μ – σ < x
< μ + σ,
dan
cekung dari atas untuk harga x lainnya
4.
Kedua ujung kurva normal mendekati asimtot sumbu datar bila harga x bergerak
menjauhi
μ baik ke kiri maupun ke kanan
5.
Seluruh luas di bawah kurva diatas sumbu datar sama dengan 1
Bila x menyatakan peubah
acak distribusi maka P(x1 < x < x2) diberikan oleh daerah yang
diarsir dengan garis yang turun dari kiri ke kanan. Jelas bahwa kedua daerah
yang diarsir berlainan luasnya. Jadi, peluang yang berpadanan dengan
masing-masing distribusi akan berlainan pula.
Contoh soal :
Contoh Soal : Mawar
adalah seorang peragawati yang akan diseleksi dengan tinggi badan 173 cm.
Standar tinggi badan rata-rata peragawati adalah 171,8 dan standar deviasinya
adalah 12. Berapakah standar normalnya (Z) ?
Penyelesaian :
Dik : x = 173, µ = 171,8, σ = 12
Dit : Z ?
Jawab : Z = x - µ
σ = 173 – 171.8 = 0.1
12
Penyelesaian :
Dik : x = 173, µ = 171,8, σ = 12
Dit : Z ?
Jawab : Z = x - µ
σ = 173 – 171.8 = 0.1
12
2. DISTRIBUSI
T
Adalah pengujian
hipotesis yang menggunakan distribusi T sebagai uji statsistik, table
pengujiannya disebut table T student. Distribusi T pertama kali diterbitkan
tahu 1908 dalam suatu makalah oleh W.S. Gosset. Hasil uji statistiknya kemudian
dibandingkan dengan nilai yang ada pada tabel kemudian menerima atau menolak
hipotesis nol (Ho) yang dikemukakan. Cirinya : sample yang di uji berukuran
kurang dari 30
Tabel Nilai t
|
df
|
α
|
|||
|
0.05
|
0.025
|
0.01
|
0.005
|
|
|
1
|
6.314
|
12.706
|
31.821
|
63.657
|
|
2
|
2.920
|
4.303
|
6.965
|
9.925
|
|
3
|
2.353
|
3.182
|
4.541
|
5.841
|
|
4
|
2.132
|
2.776
|
3.747
|
4.604
|
|
5
|
2.015
|
2.571
|
3.365
|
4.032
|
|
6
|
1.943
|
2.447
|
3.143
|
3.707
|
|
7
|
1.895
|
2.365
|
2.998
|
3.499
|
|
8
|
1.860
|
2.306
|
2.896
|
3.355
|
|
9
|
1.833
|
2.262
|
2.821
|
3.250
|
|
10
|
1.812
|
2.228
|
2.764
|
3.169
|
|
11
|
1.796
|
2.201
|
2.718
|
3.106
|
|
12
|
1.782
|
2.179
|
2.681
|
3.055
|
|
13
|
1.771
|
2.160
|
2.650
|
3.012
|
|
14
|
1.761
|
2.145
|
2.624
|
2.977
|
|
15
|
1.753
|
2.131
|
2.602
|
2.947
|
|
16
|
1.746
|
2.120
|
2.583
|
2.921
|
|
17
|
1.740
|
2.110
|
2.567
|
2.898
|
|
18
|
1.734
|
2.101
|
2.552
|
2.878
|
|
19
|
1.729
|
2.093
|
2.539
|
2.861
|
|
20
|
1.725
|
2.086
|
2.528
|
2.845
|
|
21
|
1.721
|
2.080
|
2.518
|
2.831
|
|
22
|
1.717
|
2.074
|
2.508
|
2.819
|
|
23
|
1.714
|
2.069
|
2.500
|
2.807
|
|
24
|
1.711
|
2.064
|
2.492
|
2.797
|
|
25
|
1.708
|
2.060
|
2.485
|
2.787
|
|
26
|
1.706
|
2.056
|
2.479
|
2.779
|
|
27
|
1.703
|
2.052
|
2.473
|
2.771
|
|
28
|
1.701
|
2.048
|
2.467
|
2.763
|
|
29
|
1.699
|
2.045
|
2.462
|
2.756
|
|
30
|
1.697
|
2.042
|
2.457
|
2.750
|
|
40
|
1.684
|
2.021
|
2.423
|
2.704
|
|
50
|
1.676
|
2.009
|
2.403
|
2.678
|
|
100
|
1.660
|
1.984
|
2.364
|
2.626
|
|
10000
|
1.645
|
1.960
|
2.327
|
2.576
|
Uji t dikembangkan oleh
William Sealy Gosset. Dalam artikel publikasinya, ia menggunakan nama samaran
Student, sehingga kemudian metode pengujiannya dikenal dengan uji t-student.
William Sealy Gosset menganggap bahwa untuk sampel kecil, nilai Z dari distribusi
normal tidak begitu cocok. Oleh karenanya, ia kemudian mengembangkan distribusi
lain yang mirip dengan distribusi normal, yang dikenal dengan distribusi
t-student. Distribusi student ini berlaku baik untuk sampel kecil maupun sampel
besar. Pada n ≥ 30, distribusi t ini mendekati distribusi normal dan pada n
yang sangat besar, misalnya n=10000, nilai distribusi t sama persis dengan
nilai distribusi normal (lihat tabel t pada df 10000 dan bandingkan dengan
nilai Z).
Pemakaian uji t ini
bervariasi. Uji ini bisa digunakan untuk objek studi yang berpasangan dan juga
bisa untuk objek studi yang tidak berpasangan. Berikut contoh penggunaan uji t.
Uji t tidak berpasangan
Contoh kasus :
Kita ingin menguji dua
jenis pupuk nitrogen terhadap hasil padi
1. Hipotesis
Ho : 1 =2
HA : 1 ≠ 2
2. Hasil penelitian
tertera pada Tabel 1.
Tabel 1. Data hasil
penelitian dua jenis pupuk nitrogen terhadap hasil padi
(t/h)
|
Plot
|
Pupuk A
Y1
|
Pupuk B
Y2
|
|
1
|
7
|
8
|
|
2
|
6
|
6
|
|
3
|
5
|
7
|
|
4
|
6
|
8
|
|
5
|
5
|
6
|
|
6
|
4
|
6
|
|
7
|
4
|
7
|
|
8
|
6
|
7
|
|
9
|
6
|
8
|
|
10
|
7
|
7
|
|
11
|
6
|
6
|
|
12
|
5
|
7
|
3. Data analisis adalah
sebagai berikut
Hitunglah
Y 2 =
6.92
S1 =
0.996
S2 =
0.793
thit =( 1 – 2)/√(S12/n1)
+(S22/n2)
=( 5.58 – 6.92)/√(0.9962/12)+(0.7932/12)
= -1.34/0.367522 = -3.67
Setelah itu, kita lihat
nilai t table, sebagai nilai pembanding. Cara melihatnya adalah sebagai
berikut. Pertama kita lihat kolom α = 0.025 pada Tabel 2. Nilai α ini berasal
dari α 0.05 dibagi 2, karena hipotesis HA kita adalah hipotesis 2 arah
(lihat hipotesis). Kemudian, kita lihat baris ke 22. Nilai 22 ini adalah nilai
df, yaitu n1+n2-2. Nilai n adalah jumlah ulangan, yaitu masing 12 ulangan.
Akhirnya, kita peroleh nilai ttable = 2.074.
t table =
t α/2 (df) = t0.05/2 (n1+n2-2)=t0.025(12+12-2) = t0.025(22) =
2.074
4. Kriteria Pengambilan
Kesimpulan
Terima H0, jika thit| <
t table, sebaliknya
Tolak H0, alias terima HA,
jika thit| >
t table
5. Kesimpulan
Karena nila thit|= 3.67
(tanda minus diabaikan) dan nilai ttable=2.074, maka kita tolak H0, alias kita
terima HA. Dengan demikian, 1 ≠ 2, yaitu
hasil padi yang dipupuk dengan pupuk A tidak sama dengan hasil padi yang
dipupuk dengan pupuk B. Lebih lanjut, kita lihat bahwa rata-rata hasil padi
yang dipupuk dengan pupuk B lebih tinggi daripada yang dipupuk dengan pupuk A.
Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa pupuk B nyata lebih baik
daripada pupuk A untuk meningkatkan hasil panen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar